Blog

In unserem Blog findet ihr in Zukunft alle größeren wichtigen Ankündigungen.

facebook_page_plugin

Bahasa Indonesia

Datum: Sonntag, den 13. Januar 2019
Uhrzeit: 15 Uhr
Ort: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Predigttext aus Josua 3, 5-11

Israel geht durch den Jordan

Und Josua sprach zum Volk: Heiligt euch, denn morgen wird der HERR Wunder unter euch tun. 6 Und Josua sprach zu den Priestern: Hebt die Bundeslade auf und geht vor dem Volk her! Da hoben sie die Bundeslade auf und gingen vor dem Volk her. 7 Und der HERR sprach zu Josua: Heute will ich anfangen, dich groß zu machen vor ganz Israel, damit sie wissen: Wie ich mit Mose gewesen bin, so werde ich auch mit dir sein. 8 Und du gebiete den Priestern, die die Bundeslade tragen, und sprich: Wenn ihr an das Wasser des Jordans herankommt, so bleibt im Jordan stehen.
9 Und Josua sprach zu den Israeliten: Herzu! Hört die Worte des HERRN, eures Gottes! 10 Daran sollt ihr merken, dass ein lebendiger Gott unter euch ist und dass er vor euch vertreiben wird die Kanaaniter, Hetiter, Hiwiter, Perisiter, Girgaschiter, Amoriter und Jebusiter: 11 Siehe, die Lade des Bundes des Herrn der ganzen Erde wird vor euch hergehen in den Jordan.

(Lutherbibel 2017)

Ehrenamtlicher Dienst zum 1. Sonntag nach Epiphanias

Predigt: Pfrin. Junita Rondonuwu-Lasut (Evangelische Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main)
Liturgie: Herr Frank Madrikan
Musik: Frau Sonya Mboeik
Bibellesung: Frau Ruth Ritonga
Abendmahl: Kirchenvorstand Kindergottesdienst: Frau Riany Lengkong und Frau Yesica Balondo
Abkündigung: Frau Roselien Rehfeldt
Verpflegung: Sukacita
Schlüsseldienst: Frau Roselien Rehfeldt

Liturgie
Unsere letzten Predigten

Unser Gemeindetreff nach unserem Sonntagsgottesdienst findet in Saalgasse 15 (EVA) statt.

----------------

Tanggal: Minngu, 13 Januari 2019
Waktu: Pukul 15:00
Tempat: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Teks Khotbah dari Yosua 3, 5-11

Menyeberangi sungai Yordan

Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: “Kuduskanlah dirimu, sebab besok Tuhan akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” 6 Dan kepada para imam itu Yosua berkata, demikian: “Angkatlah tabut perjanjian dan menyeberanglah di depan bangsa itu.” Maka mereka mengangkat tabut perjanjian dan berjalan di depan bangsa itu. 7 Dan Tuhan berfirman kepada Yosua: “Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau. 8 Maka kauperintahkanlah kepada para imam pengangkat tabut perjanjian itu, demikian: Setelah kamu sampai ke tepi air sungai Yordan, haruslah kamu tetap berdiri di sungai Yordan itu.”
9 Lalu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Datanglah dekat dan dengarkanlah firman Tuhan, Allahmu.” 10 Lagi kata Yosua: “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu: 11 sesungguhnya, tabut perjanjian Tuhan semesta bumi berjalan menyeberang di depan kamu, masuk ke sungai Yordan.

(Alkitab Terjemahan Baru 1974)

Pemberitahuan Pelayanan Hari minggu pertama setelah Epiphania

Khotbah: Pdt. Junita Rondonuwu-Lasut (Evangelische Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main)
Liturgi: Bpk Frank Madrikan
Musik: Ibu Sonya Mboeik
Pembacaan Alkitab: Sdri Ruth Ritonga
Perjamuan Kudus: Majelis Jemaat
Sekolah Minggu: Sdri Riany Lengkong dan Ibu Yesica Balondo
Berita Jemaat: Ibu Roselien Rehfeldt
Konsumsi: Sukacita
Kunci: Ibu Roselien Rehfeldt

Liturgi
Khotbah yang terakhir

Pertemuan jemaat setelah Ibadah Minggu depan akan diadakan di Gedung EVA (Saalgasse 15).

Bahasa Indonesia

Datum: Sonntag, den 6. Januar 2019
Uhrzeit: 15 Uhr
Ort: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Predigttext aus Matthäus 2, 1–12

Die Weisen aus dem Morgenland

Da Jesus geboren war zu Bethlehem in Judäa zur Zeit des Königs Herodes, siehe, da kamen Weise aus dem Morgenland nach Jerusalem und sprachen: 2 Wo ist der neugeborene König der Juden? Wir haben seinen Stern aufgehen sehen und sind gekommen, ihn anzubeten.
3 Als das der König Herodes hörte, erschrak er und mit ihm ganz Jerusalem, 4 und er ließ zusammenkommen alle Hohenpriester und Schriftgelehrten des Volkes und erforschte von ihnen, wo der Christus geboren werden sollte. 5 Und sie sagten ihm: In Bethlehem in Judäa; denn so steht geschrieben durch den Propheten (Micha 5,1): 6 »Und du, Bethlehem im Lande Juda, bist mitnichten die kleinste unter den Fürsten Judas; denn aus dir wird kommen der Fürst, der mein Volk Israel weiden soll.«
7 Da rief Herodes die Weisen heimlich zu sich und erkundete genau von ihnen, wann der Stern erschienen wäre, 8 und schickte sie nach Bethlehem und sprach: Zieht hin und forscht fleißig nach dem Kindlein; und wenn ihr's findet, so sagt mir's wieder, dass auch ich komme und es anbete. 9 Als sie nun den König gehört hatten, zogen sie hin. Und siehe, der Stern, den sie hatten aufgehen sehen, ging vor ihnen her, bis er über dem Ort stand, wo das Kindlein war. 10 Da sie den Stern sahen, wurden sie hocherfreut 11 und gingen in das Haus und sahen das Kindlein mit Maria, seiner Mutter, und fielen nieder und beteten es an und taten ihre Schätze auf und schenkten ihm Gold, Weihrauch und Myrrhe.
12 Und da ihnen im Traum befohlen wurde, nicht wieder zu Herodes zurückzukehren, zogen sie auf einem andern Weg wieder in ihr Land.

(Lutherbibel 2017)

Ehrenamtlicher Dienst zum Sonntag nach Epiphanias (Erscheinungsfest)

Predigt: Pfr. Welman Boba (MÖD / Evangelsische Kirche der Pfalz)
Liturgie: Frau Maria Weber
Musik: Herr Aditya Dolontelide
Bibellesung: Frau Rustina Sihotang
Kindergottesdienst: Frau Inke Rondonuwu und Frau Riany Lengkong
Abkündigung: Herr Frank Madrikan
Verpflegung: Puji Syukur
Schlüsseldienst: Herr Frank Madrikan

Liturgie
Zum Gottesdienst-Portal
Unsere letzten Predigten

Unser Gemeindetreff nach unserem Sonntagsgottesdienst findet in Saalgasse 15 (EVA) statt.

----------------

Tanggal: Minggu, 6 Januari 2019
Waktu: Pukul 15:00
Tempat: Alte Nikolaikirche, Frankfurt am Main / Römerberg

Teks Khotbah dari Matius 2, 1–12

Orang-orang majus dari Timur

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem 2 dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. 4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. 5 Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: 6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”
7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. 8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” 9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. 10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. 11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

(Alkitab Terjemahan Baru 1974)

Pemberitahuan Pelayanan Hari minggu setelah Epiphanias

Khotbah: Pfr. Welman Boba (MÖD / Evangelsische Kirche der Pfalz)
Liturgi: Ibu Maria Weber
Musik: Sdr Aditya Dolontelide
Pembacaan Alkitab: Ibu Rustina Sihotang
Sekolah Minggu: Sdri Inke Rondonuwu dan Sdri Riany Lengkong
Berita Jemaat: Bpk Frank Madrikan
Konsumsi: Puji Syukur
Kunci: Bpk Frank Madrikan

Liturgi
Ke Portal Ibadah
Khotbah yang terakhir

Pertemuan jemaat setelah Ibadah Minggu depan akan diadakan di Gedung EVA (Saalgasse 15).

Daten wahren, aber auch jederzeit verfügbar haben

Für die JKI steht eine vertrauensvolle und innovative Zusammenarbeit mit unserer Gemeinde und unseren Partnern an erster Stelle. Aus diesem Grund optimieren wir tagtäglich unsere Prozesse und internen Abläufe.

Die internationale Norm ISO/IEC 27001 wurde entworfen, um die Auswahl geeigneter Sicherheitsmechanismen zum Schutz sämtlicher Werte in den Wertschöpfungsketten sicherzustellen. Die Norm spezifiziert Anforderungen für die Implementierung von geeigneten Sicherheitsmechanismen, welche an die Gegebenheiten der einzelnen Organisationen adaptiert werden sollen. Der deutsche Anteil an diesem internationalen Normungsprojekt wird vom DIN NIA-01-27 IT-Sicherheitsverfahren betreut.

Mit unserer internen Arbeitsplattform decken wir diese Anforderungen der ISO-Norm ab und können somit ein Höchstmaß an Qualität und Sicherheit garantieren. Neben unseren alltäglichen kirchlichen Aufgaben, begleiten wir unsere Gemeinde mit Kompetenz durch die digitale Transformation.

JKI Portal - Kirche
JKI Portal - Kirche


Die Norm 27001 für Informationssicherheitsmanagementsysteme (ISMS) hat zum Ziel, dass alle vertraulichen Daten geschützt werden, die Integrität der betrieblichen Daten gewahrt wird und die Daten jederzeit verfügbar sind. Durch unsere jahrelange Erfahrung im Bereich Zusammenarbeit wissen wir, wie wichtig ein gewissenhafter Umgang mit Informationen ist, um den Gemeindebetrieb aufrecht zu halten. Daher ist auch unsere interne Arbeitsplattform die notwendige Basis für einen erfolgreichen Gemeindealltag.

JKI Portal - Kirche
JKI Portal - Verwaltung


JKI Portal - Teams
JKI Portal - Teams


Offizielle Seite der Veröffentlichung der ISO/IEC 27001:2013
Grundausrichtung der IT-Sicherheit innerhalb der EKD

Sich gegenseitig zu besuchen, ist ein Zeichen der Zusammengehörigkeit

Die Partnerschaft zwischen der „Gereja Masehi Injili di Minahasa“ (GMIM) in Indonesien und der Propstei Rheinhessen der EKHN besteht seit nunmehr 32 Jahren. Wir glauben, dass die ökumenische Partnerschaft mit der GMIM einen interkulturellen Dialog zwischen deutschen und indonesischen Christen ermöglicht.

Indon. Zeitungsauschnitt zum Partnerschaftsabkommen 1986
Indon. Zeitungsauschnitt zum Partnerschaftsabkommen 1986

Mitglieder des Kirchenvorstands der Kristusgemeinde wie auch die Gemeindepfarrerin sind Mitglieder im Partnerschafts-Ausschuss und arbeiten somit aktiv im Trialog mit. Der Partnerschafts-Ausschuss ist ein wichtiger Bestandteil des ökumenischen Austauschs. Dabei begleiten wir die Delegationen aus der GMIM zu Besuchen in den Gemeinden bzw. Dekanate in der Propstei Rheinhessen. Ebenso erarbeiten wir die Programmpunkte und Unterbringungen mit vor. Ein indonesischer Sprachkurs ausgerichtet von der Kristusgemeinde für den Partnerschaftsausschuss der Propstei Rheinhessen, soll bei der Kommunikation mit den Partnern in Indonesien helfen. Ebenso stehen wir im Ausschuss bei Reisen in die GMIM zur Verfügung, bei denen Gemeindemitglieder ebenfalls als Dolmetscher mitwirken.

".. Sich gegenseitig zu besuchen, ist ein Zeichen der Zusammengehörigkeit aller Gemeinden und Dienste in dieser Welt. Als Teil der globalen Christenheit, die in ihrer Geschichte viele Facetten und Ausdrucksformen entwickelt hat, will die EKHN durch ihre Direktpartnerschaften ihre Vielfalt und Einheit in Jesus Christus erfahren, verwirklichen und sich mit anderen darüber austauschen, wie unser Glaube gestärkt werden kann."
Propst Dr. Klaus-Volker Schütz

Der Ausschuss der Partnerschaft Rheinhessen-GMIM hat mehrere große Projekte in der kommenden Zeit, die die Finanzen des Ausschusses stark beanspruchen werden.
Daher hat unser Kirchenvorstand beschlossen, dass die Wahlpflichtkollekte zum 19.08.2018 der ÖKUM. PARTNERSCHAFTEN DER PROPSTEI RHEINHESSEN-GMIM (20 a) zugutekommt.

EKHN: Ökumenische Patenschaften der Kirchengemeinde/des Dekanates/der Propstei
Evangelisch am anderen Ende der Welt - Blog zum Pastoralkolleg 2017

- Indonesische Übersetzung -

Datum: 25.12.2018
Ort: Evangelische Akademie Frankfurt am Main

Liebe Gäste und Freunde der Ev. Indonesischen Kristusgemeinde Rhein-Main,

im Namen unseres Kirchenvorstands und unserer Gemeinde darf ich Sie / euch heute recht herzlich zu unserer traditionellen Weihnachtsfeier willkommen heißen. Selamat datang di pesta Natal JKI Rhein-Main dan marilah kita lanjutkan dialog damai satu sama lain di rumah ini. Saya lanyutkan di bahasa jerman. Nanti, pidato saya juga akan dipublikasikan dalam Bahasa Indonesia di website kami.

Dieses Jahr haben uns viele Höhen, aber leider auch sehr viele Tiefen bewegt. Auch jetzt kurz vor unserem Weihnachtsfest hat eine Naturkatastrophe den südlichen Teil von Sumatra und den westlichen Teil von Java getroffen. Auch hier werden aktuell mindestens 400 Tote gezählt und weitere 150 vermisst. Das Grußwort unseres Stadtdekans Dr. Achim Knecht beschreibt sehr gut auch unser Mitgefühl.

Liebe Schwestern und Brüder in Christus!

Zu Weihnachten Grüße ich Sie herzlich mit folgenden Worten aus dem Johannes-Evangelium: So sehr hat Gott die Welt geliebt, dass er seinen einen Sohn gab, damit alle, die an ihn glauben, nicht verloren werden, sondern das ewige Leben haben. Denn: Wer an den Sohn glaubt, der hat das ewige Leben. (Joh. 3, 16+36)

Das Weihnachtsfest ist in diesem Jahr für viele nicht nur ein frohes Fest. Zu sehr sind noch die Bilder und die Nachrichten von Ende September im Kopf, als der Tsunami die Region Sulawesi verwüstete, die für viele von Ihnen ebenfalls Heimat ist. Die Erfahrung dieser Katastrophe trübt die Freude über Weihnachten.
Es hat die Mitglieder der Stadtsynode sehr berührt, wie Frau Pfarrerin Lasut bei der Tagung der Synode Anfang dieses Monats von der Lage in der so schwer erschütterten Gegend berichtete. Sicher haben viele von Ihnen auch in den vergangenen Stunden mit Angehörigen dort über Skype Kontakt gehabt, oder Whatsapp-Nachrichten geschickt anlässlich des Heiligen Abend. Auch dabei wurde wahrscheinlich erneut das Schicksal der Verschütteten und Vermissten beklagt und von der Not der Überlebenden gesprochen.

Doch die Botschaft von Weihnachten besagt: Was auch immer geschieht – wir sind keiner blinden Schicksalsmacht ausgeliefert.
Denn so sehr hat Gott die Welt geliebt, dass er seinen einen Sohn gab. Und alle, die daran glauben, die darauf vertrauen, haben das ewige Leben – ein Leben bei Gott, das nicht verloren geht und nicht umsonst gewesen ist.

Denn Gott ist in unsere Welt gekommen, in Armut und Not, geboren als Kind armer Leute, ohne Obdach, um den Menschen in Not und Elend nahe zu sein.

Vielleicht kann Ihnen diese Botschaft an diesem überschatteten Weihnachtsfest ein Trost sein, und Sie können Kraft schöpfen aus dem Wissen: Gott hat uns seinen Sohn geschenkt, hat ihn Mensch werden lassen, damit Himmel und Erde sich nahekommen.

Ich wünsche Ihnen allen ein frohes Weihnachtsfest und ein gutes neues Jahr 2019!

Mit herzlichen Grüßen,
Ihr
Pfarrer Dr. Achim Knecht, Stadtdekan

Es ist wunderbar zu sehen, wie die Nutzung unserer Räumlichkeiten von verschiedenen jungen Gruppen zunimmt.

Daher möchte ich auch die Zeit nutzen und hervorheben, dass die Wichtigkeit unseres interreligiösen Dialogs in unserer internationalen Stadt Frankfurt am Main aufrechterhalten werden muss. Dazu gehört es auch offen zu streiten und die Meinung anderer zu respektieren, solange sie ein friedliches Zusammenleben herbeizuführen.

Unabhängig welcher Religion glaube ich, dass das 8. Gebot unseres Gottes sicherlich auch eine Grundlage eines friedlichen Dialogs sein sollte:

Du sollst nicht falsch Zeugnis reden wider deinen Nächsten.

Gott will nicht, dass wir einander belügen. Er will uns zur Wahrhaftigkeit helfen. Wer einen Menschen bewusst belügt, versündigt sich gegen die Wahrheit und raubt seinem Mitmenschen die Würde. Der Mut zur Wahrhaftigkeit wird uns sehr guttun und unsere seelische und geistige Gesundheit fördern.

Aus unseren dunklen Vergangenheiten müssen wir lernen. Genrationen vor uns müssen weiterhin offen sein für neue Innovationen, ohne jegliches Eigenprofit daraus zu ziehen. Nur gemeinsam können wir den Frieden und unsere Umwelt hier in Frankfurt, in unserem Rhein-Main Gebiet, in Indonesien und auf dieser Welt bewahren. Es liegt an jeden von uns, was wir von dieser gottesgegebenen Welt erwarten dürfen.

Gesegnete Weihnachten, Salam Damai Natal.
Semoga kita semua selalu ada di dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Schalom, Assalamu'alaikum, Damai sejahtera und Friede sei mit euch.

[Bahasa Indonesia]

Unsere junge Projektgruppe hatte am Samstag, den 17.11.2018 zur Benefizveranstaltung zugunsten der Betroffenen der Naturkatastrophe in Palu / Donggala eingeladen. Aus dem Indonesian Care Day ist in der Folge nun das Langzeitprojekt "Gemeinsam Solidarisch" entsprungen. Junge Studenten und Erwachsene planten im interreligiösen Dialog mit ihren Freunden und Partnern, darunter die Indonesische Muslimische Gemeinde, die Indonesische Katholische Gemeinde, die Indonesische Studentenvereinigung sowie die Indonesische Hindugemeinschaft einen Batik-Flohmarkt, Kulinarisches und einen Angklung-Workshop, in dem man das traditionelle Bambus-Instrument spielen lernte. In den Räumlichkeiten der Ev. Akademie Frankfurt und mit der technischen Unterstützung von Audio Frankfurt wurde in nur einem Monat eine wunderbare Veranstaltung organisiert. In der Spendenbox landeten an diesem Abend 4270,10 Euro, die mit den weiteren Spenden im Vorfeld eine Spendensumme von aktuell 7533,89 Euro ergeben.

Aktueller Status zur humanitären Hilfe in Indonesien

Im Hauptprogramm wurde eine musikalische Reise durch Indonesien dargeboten. Von traditionellen Klängen und Tänzen, über Klassik bis hin zu Popmusik wurde ein großes Sortiment auf die Bühne gelegt. Unser Vorsitzender Jens Balondo stellte in seiner Begrüßungsrede die interreligiöse Zusammenarbeit in den jungen Generationen in den Vordergrund. Neben der humanitären Hilfe möchte das Projekt auch ein Zeichen für die Wichtigkeit des Dialogs mit Toleranz setzen. "Für die betroffene Region ist das zerstörte interreligiöse Bildungszentrum eine wichtige Anlaufstelle gewesen. Diese müssen wir wieder gemeinsam aufbauen, um den kommenden Generationen weiterhin eine hoffnungsvolle Zukunft für unsere Gemeinschaft in Einigkeit und Vielfalt aufzuzeigen." ergänzt Junita Rondonuwu-Lasut, Pfarrerin der Ev. Indonesischen Kristusgemeinde Rhein-Main.

Begrüßnungsrede Jens Balondo [Bahasa Indonesia]

Gebet - Katholische Indonesische Gemeinde, Pastor Romo Innocentius Sigaze
Gebet - Muslimische Indonesische Gemeinde, Ustadz Fidinul Hayat
Gebet - Indonesische Hindugemeinschaft, Frau Putu Nanda Novira Artati
Gebet - Evangelische Indonesische Gemeinde, Pfarrerin Junita Rondonuwu-Lasut

Leandro Christian (28) ist ein erfahrener Konzert Pianist. Er absolvierte sein Musikstudium in Queensland Conservatorium in Australien. Aktuell macht er sein Masterstudium bei Lev Natochenny an der Kalaidos Musikhochschule in Frankfurt am Main. Nebenbei gibt er Musikunterricht. Ebenso begleitet er musikalisch die Ev. Indonesische Kristusgemeinde Rhein-Main zum wöchentlichen Sonntagsgottesdienst.

Ein Stück aus „Bach-Brahms Chaconne in D-Moll“. Die Besonderheit hieran ist, das es nur mit der linken Hand gespielt wird.

Die Chaconne ist ein Werk von Johann Sebastian Bach. Es wurde ursprünglich für die Geige geschrieben. Nachdem Clara Schumann sich ihre rechte Hand verletzte, umschrieb ihr guter Freund Johannes Brahms die Chaconne für das Klavier und eigens für die linke Hand.

Zitat Brahms: „Für ein kleines Instrument wie die Geige, schreibt der Mensch die Ganzheit einer Welt der tiefsten Gedanken und der stärksten Gefühle.“



Informationen zum Fotografen:
Rizki Rahman ist Bachelor Informatik Student an der Hochschule in Darmstadt. Im Jahre 2011 fand er seine Interresse am Fotografieren.
Kontakt Infos: +4917675672503 oder per Instagram @rizkirahman


Informationen zum Fotografen:
Neben dem Verfassen von schönen poetischen Texten und rhythmischen Gedichten, ist Grover Rondonuwu ein exzellenter Schachspieler. Mit der Fotografie hat er eine weitere große Leidenschaft gefunden.


Informationen zum Fotografen:
Christian Jose absolviert derzeit sein Studienkolleg an der TU Darmstadt (T-Kurs). In der Mittelschule (vergl. mit Förderstufe in Indonesien) hatte ihm sein Vater eine Kamera geschenkt. Zunächst allerdings nur automatische Fotografie. Seit Oktober 2017 drang er in die manuelle Fotografie ein und beschäftigt sich in seinem Hobby damit.
Kontakt Infos: Diese E-Mail-Adresse ist vor Spambots geschützt! Zur Anzeige muss JavaScript eingeschaltet sein!

Die Spenden fließen in die interne Projektnummer "RT 1623 - SP.02/2018".

Hilfsmaßnahme:

Humanitäre Hilfe Indonesien - Wiederaufbau Palu / Region Donggala

"Egal, warum die Menschen über das Meer fliehen: Wenn sie unterwegs in Seenot geraten, brauchen sie Hilfe. Das gebietet die Menschlichkeit. Das gebietet die Nächstenliebe."
Manfred Rekowski - Vorsitzender der Kammer für Migration und Integration der EKD

Facebook: https://www.facebook.com/ekd.de/posts/1980843561950441
EKD: Manfred Rekowski fordert sichere Fluchtrouten

[Bahasa Indonesia]

Prof. Dr. Siti Musdah Mulia: "Werde nie müde, den Frieden zu stricken"

Das Auswärtige Amt arbeitete mit Finnland zusammen und veranstaltete ein Dialogforum "Religiöse Verantwortung für den Friedensaufbau". Folgendes ist ein kurzes Interview der Deutsche Welle mit Prof. Dr. Siti Musdah Mulia.



Der Workshop mit dem Thema "Religion ist in der Verantwortung Frieden aufzubauen" wurde in einer Zusammenarbeit von Finnland und Deutschland vom 18.-20. Juni in Berlin veranstaltet. Dieses Seminar wurde von mehr als 80 Personen verschiedener Länder Asiens besucht. Sie sind die Vertreter der Oberhäupter der Religionen in Asien und Geistliche religiöser Organisationen. DW interviewte Prof. Siti Musdah Mulia von Indonesian Conference on Religion and Peace, einer der Teilnehmer, welche aus Indonesien nach Berlin geladen wurden.

DW: Welche Themen wurden in Berlin besprochen und wie war bzw ist Ihr Eindruck von der Veranstaltung?

Musdah Mulia: Es gab 4 Haupthemen: Die Geistlichen als Akteur für Frieden und Meditation, das Gesicht der Religionen in der Öffentlichkeit, und das Thema: Religion, Geschlecht und Frieden.

Prof. Dr. Musdah Mulia
Prof. Dr. Musdah Mulia
In der Diskussion standen eine Reihe entscheidender Fragen und Fälle von religiösen und sozialen Konflikten in verschiedenen Regionen, wie zum Beispiel Myamar, im Vordergrund. Obwohl es in jeder Sitzung sehr oft eine heiße Debatte zwischen den Teilnehmer gab, da es Unterschiede in den Standpunkten und Interessen gab, waren sie sich doch einig, dass die Konflikte sofort beendet werden müssen. Denn Konflikte machen das Leben des Volkes in allen Aspekten nur noch schlimmer.

Alle Teilnehmer waren sich einig, dass Frieden die einzig wirkliche Antwort und Lösung ist für all das Chaos, welches in Form von religiösen und sozialen Konflikten überfällt. Man muss sich um den Frieden ernsthaft bemühen und in einer Weise ausgeführt werden, die alle Ebenen der Gesellschaft erreicht, vor allem religiöse Oberhäupter, systematisch beginnend im grundlegendsten: der Familie.

Kernbotschaft: Seien sie niemals müde Frieden zu stiften, denn der Friede ist der Kern des Mitgefühls und der Gerechtigkeit, welche in der Humanisierung des Menschen endet.

Wie genau ist der Zustand des religiösen Zustands des religiösen Dialogs in Indonesien in heutiger Zeit?

Die Herausforderung für einen Dialog zwischen den Religionen in Indonesien sind durch den Aufstieg des Fundamentalismus in den letzten 10 Jahren, vor allem in der Ära des Präsidenten Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) gestiegen. Es scheint den Eindruck zu haben, dass SBY gegen den wachsenden Radikalismus nichts unternommen hat. Radikalismus, der die Geburt für Haltung und Aktionen der Intoleranz in Form von Hass gegen religiöse Minderheiten in Indonesien sind.

Welche konkreten Beispiele aus Indonesien können in diesem religiösen Dialog vermittelt werden?

Ich erzählte über die Erfahrungen unsere Organisation, dass wir Peace Education in den Familien lehren. Eine Art der Friedenserziehung für die Eltern, um es so den Kindern weiterzugeben. Das heißt, Friedenserziehung sollte auf der Ebene der Familienhaushalte beginnen. Darüber hinaus habe ich auch über das Vertreten der Öffentlichkeit erzählt, damit Verordnungen keine diskriminierenden Elemente gegen Minderheiten und Familien enthalten.

http://www.dw.com/id/musdah-mulia-jangan-pernah-lelah-merajut-perdamaian/a-44381306

EKHN Logo

Search

Unsere regulären Aktivitäten

Sonntag:

15:00 Uhr Gottesdienst in der Alten Nikolaikirche

15:15 Uhr Kindergottesdienst in unserem Gemeindehaus

Montag:

17:00 Uhr Gebets- und Frauenkreis im Gemeindehaus

Weitere Termine finden sie in unserem Kalender.

Cookies erleichtern die Bereitstellung unserer Dienste der EIKG / JKI. Mit der Nutzung unserer Dienste erklären Sie sich damit einverstanden, dass wir Cookies verwenden. Ihre Auswahl wird für 365 Tage gespeichert.
Weitere Informationen Ok